Terkadang aku benci sendiri
Namun biar lebih suka kesendirian, di dalamnya biar lebih nyaman
Kadang aku ingin seseorang
Dia tak ada lagi untukku, biar bergembira karenanya
Biar menertawakanku dalam sakitku, “Kubilang juga apa! Jangan pernah lemah terhadap perasaan sayang!”
Biar, kamu bisa hidup tanpa itu tapi aku tidak
Biar aku benci namun kamu bagian dari diriku
Terkadang aku ingin kuat seperti biar, tidak menangis sendirian malam-malam
Tapi aku tidak bisa begitu saja mematikan hatiku
Menutup pintu itu rapat-rapat dan membuang kuncinya
Karena aku bukan biar
Luka itu mungkin mengering tapi berparut
Mengoyak permukaan kulitku
Semakin jelek, kata biar
Tapi biarlah itu tandaku menuju kedewasaan
Mungkin biar tak berparut
Mengurung perasaannya sedemikian rupa
Tapi aku tahu hati biar bernanah
Biar...Biar...Biar...
8 April 2010 (17.02)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar